Sponsors Link

Dampak Red Tide Bagi Manusia

Red tide merupakan fenomena yang terjadi akibat ledakan perkembangan (blooming) yang begitu cepat dari sejenis fitoplankton, misalnya Ptychodiscus brevis, Prorocentrum, Gymnodinium breve, Alexandrium catenella dan Noctiluca scintillans dari kelompok Dinoflagellata (Pyrrophyta) yang dapat menyebabkan perubahan warna dan konsentrasi air secara drastis, kematian massal biota laut, perubahan struktur komunitas ekosistem perairan, bahkan keracunan dan kematian pada manusia.

Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya fenomena red tide yaitu suhu permukaan laut yang hangat, salinitas rendah, kandungan gizi yang tinggi, dan laut yang tenang.

Selain itu, fitoplankton tersebut dapat menyebar dengan jauh karena pengaruh angin, arus, dan badai. Badai ini mengubah sistem pergerakan air laut yang mengakibatkan bertumpuknya plankton di lautan tertentu. cara transplantasi terumbu karang bisa dijadikan sebagai informasi tambahan.

Menurut Said Mustafa ada empat faktor yang menjadi penyebab timbulnya red tide sebagai berikut.

  • Adanya  unsur hara di dasar laut atau eutrofikasi.
  • Terjadi perubahan hidro-meteorologi dalam skala besar.
  • Munculnya gejala upwelling yaitu pengangkatan massa air yang kaya akan unsur hara ke permukaan.
  • Disebabkan oleh adanya hujan dan masuknya air tawar ke laut dalam jumlah besar.

Terjadinya peningkatan suhu air laut akibat adanya pemanasan global memicu peningkatan metabolisme sel alga. Oleh jarena itu  kecepatan pembelahan atau reproduksi alga juga meningkat. “ jika sudah membelah cepat, maka selanjutnya akan mendominasi dan perairan ‘berubah’ menjadi merah, atau hijau, coklat, atau lainnya,” kata Boy saat dihubungi Kompas.com,

Aadanya ledakan populasi bencana, dalam kondisi tertentu, memang bisa menjadi salah satu pemicu bencana bagi perikanan dan nelayan. Munculnya alga dalam jumlah besar akan membuat stok oksigen di perairan berkurang.

Sehingga akan menyebabkan banyak ikan akan mati. Blooming bisa terjadi pada alga jenis apa pun. Terkadang, alga yang mengalami blooming adalah jenis yang beracun dan tidak mengakibatkan perubahan warna menjadi merah. Tetapi jika yang terjadi adalah blooming alga beracun (HAB),maka hal itu harus segera diatasi.

Adanya racun yang terkandung dalam alga akan meracuni biota laut lain, bahkan mungkin juga bisa membunuh manusia. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi blooming alga beracun adalah dengan cara menebar serbuk kimia untuk menekan pertumbuhannya.

Tapi faktanya cara itu tidak cocok karena dianggap kurang ramah dan hanya memindahkan masalah ke dasar laut. Meski demikian, belum ditemukan cara lain yang efektif untuk mengatasinya. Biasanya, hanya muncul larangan mengonsumsi produk laut dari daerah yang dilanda HAB untuk mencegah dampak buruk terhadap manusia.


Munculnya kasus red tide di Maluku Tengah, Boy mengatakan, “Perlu dilihat apakah ada sel-sel mikro-alga dalam air laut tersebut untuk memastikan penyebab ‘berubah’-nya air laut menjadi merah.” Ketika sebab terungkap, analisis kemungkinan dampak dan langkah untuk mencegahnya bisa diupayakan.

Selain berdampak secara ekologi, fenomena red tide mengganggu kesehatan manusia seperti keracunan akibat memakan ikan mati karena red tide atau makan kerang yang diambil dari perairan yang mengalami red tide. Selain itu, bisa terjadi iritasi kulit dan mata karena berenang atau mandi di perairan yang sedang mengalami red tide.

Ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya red tide seperti manajemen nutrisi yang mengatur buangan dari darat ke perairan, melakukan penelitian mengenai teknologi yang dapat mengurangi red tide, pengendalian dampak red tide dapat dilakukan dengan pendektesian red tide serta sosialisai terhadap publik mengenai dampaknya. Menurut Alcocktahun 2007 red tide dapat dicegah seiring dengan pelaksanaan pengurangan pemanasan global.

, , , ,




Oleh :
Kategori : Biologi Dasar
Search

Our Sponsors


Dosen Talks

Kompas.com, Tempo.co, Kpu.go.id Menangkan 02 ?
Kurang Kredible Apa Web ini..!!