Sponsors Link

Karakteristik Limbah Pertambangan Secara Biologis

Limbah merupakan salah satu  bahan buangan tidak terpakai yang berdampak negatif terhadap masyarakat jika tidak dikelola dengan baik. Limbah adalah sisa produksi, baik dari alam maupun hasil dari kegiatan manusia.

Beberapa pengertian tentang limbah :

  1. Berdasarkan kepurusan Menperindag RI No. 231/MPP/Kep/7/1997 Pasal I tentang prosedur impor limbah, menyatakan bahwa Limbah adalah bahan/barang sisa atau bekas dari suatu kegiatan atau proses produksi yang fungsinya sudah berubah dari aslinya.
  2. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 18/1999 Jo.PP 85/1999 Limbah didefinisikan sebagai sisa atau buangan dari suatu usaha dan/atau kegiatan manusia.

Mungkin kita sering menjumpai warna air tambang yang berubah ubah, kuning keruh, hijau, bening sampai kemerahan. Penampakan hijau di gambar diatas bukanlah dari lumut melainkan dari larutan logam yang mengendap pada dasar kolam, umumnya berupa FeSO4.

Jika kita ambil sampel airnya tampak bening dan tembus cahaya dan pH berkisar antara 5 – 6, namun ketika kita sampling test kandungan Mn2+ akan melebihi baku mutu (diatas 4 mg/l). Untuk menurunkan kadar kelarutan Mn bisa merujuk pada tulisan “Teknik Menurunkan logam Besi (Fe2+) dan Mangan (Mn2+) terlarut.

Warna air tambang yang berwarna kuning sampai kemerahan, menunjukkan larutnya mineral pirit menjadi Fe dan SO4 yang terlarut, pH menunjukkan angka 2.7 – 3.  Untuk menaikkan pH bisa menggunakan basa kuat antara lain kapur (CaO) dan NaOH, dan untuk mengikat Fe2+ dan SO4– dapat menggunakan Polymer TOUGH var. depirite atau yang lebih ekonomis yaitu SINKER.

Beberapa lokasi tambang terkadang mengeluarkan lantung/minyak mentah dari rekahan-rekahan batuan, seperti gambar di atas sebelah kiri. Lapisan kuning yang tampak adalah campuran antara lantung dengan air (bukan pirit) dan lantung digolongkan dalam limbah B3.

Untuk menanggulangi pencemaran lingkungan di kawasan penambangan harus digunakan teknologi yang telah terbukti dan teruji, mudah dibuat dan tersedia secara lokal seluruh bahan baku dan material pembuatannya. Salah satu teknologi klasik yang digunakan adalah menggunakan bioabsorber.

Teknik tersebut digunakan untuk konservasi sungai yang tercemar logam berat pasca revolusi industri di inggris dan eropa daratan. Teknik biosorpsi ini menggunakann tumbuhan air-eceng gondok untuk menyerap logam berat yang larut pada air. biologi konservasi bisa dijadikan sebagai informasi tambahan.

Eceng gondok  sendiri memiliki kapasitas biosorbsi yang besar untuk berbagai macam logam berat terutama Hg. Logam berat tersebut diabsorbsi dan dikonversi menjadi building block sehingga tidak lagi membahayakan lingkungan.

Namun demikian proses biosorbsi sangat sulit untuk menghasilkan air yang bebar logam berat. Selain laju biosorbsi yang lambat, distribusi eceng gondok juga hanya mengapung dipermukaan sehingga menyulitkan pengolahan yang homogen.

Hal tersebut bisa diantisipasi dengan desain embung yang luas namun dangkal atau dengan melibatkan proses pengolahan lanjut dengan pengolahan tambahan.

Cara yang bisa dilaukan yaitu dengan membuat embung/waduk kecil sebelum pembuangan akhir (sungai atau laut). Nantinya embung tersebut harud dijadikan sebagai muara buangan air limbah pertambangan rakyat sehingga terkonsentrasi pada satu tempat. dampak biologis limbah bisa dijadikan sebagai informasi tambahan.

Nantinya embung tersebut ditumbuhkan eceng gondok yang akan mengadsorpsi logam berat yang terlarut didalamnya. Mengenai waktu tinggal dan lain-lain mesti disesuaikan dengan keadaan real lapangan dan spesifikasi desainnya dengan mudah didapatkan di jurnal-jurnal penelitian.


Untuk pengolahan akhir sebelum dibuang ke pembuangan air dapat digunakan saringan karbon aktif untuk mengadsorbsi kandungan sisa yang belum dapat diikat/di absorbsi oleh eceng gondok.

Saringan karbon aktif memiliki resolusi/derajat pemisahan yang sangat tinggi sehingga menjamin kandungan logam berat keluaran nihil atau sangat rendah.

Karbon aktif secara sederhana dapat dengan mudah dibuat dari arang melalui proses aktifasi. Arang komersial (karbon) dapat dijadikan karbon aktif melalui aktifasi fisik dengan pemanasan pada temperatur 600-800 °C selama 3-6 jam.

, , , ,




Oleh :
Kategori : Lingkungan
Search

Our Sponsors


Dosen Talks

Kompas.com, Tempo.co, Kpu.go.id Menangkan 02 ?
Kurang Kredible Apa Web ini..!!